arah yang nanar kembali ku buka dalam lembaran luka, kemarin senja bersama seorang teman lama, dipan teras rumahnya, menghadap utara, tepat pelangi melintas di atas kepala, dan kuning lembayung meretas seusai gerimis memandikan bumi yang renta dengan sejuta petaka, tak banyak yang kami bagi, hanya cerita sehari-hari, tentang kampus kawan ku, tentang kampus ku, dan orang-orang yang lalu lalang dalam kehidupan kami, senja selalu membuatku merasa berada di sisi lain dunia, menarik ribuan kilo jauhnya dari dunia ku yang penuh dengan lelah, nafas tersengal, kadang berbau alkohol.
LOLLITA, biasa ku sapa dia, kawan ku ini sebentar lagi akan sidang skripsi, yah memang usianya 4 tahun di atas usiaku, namun dia begitu care, jauh dari kesan konservative yang mengharuskan orang yang dibawah usianya hormat padanya, lollita calon sarjana seni, dari dia ku dapat banyak, pelajaran bahwa hidup itu indah, dia selalu bilang, jika kesedihan yang kamu dapat, adalah kesenangan yang tersangkut pada jiwa orang, dan niscaya akan tiba pada jiwamu, dengan segera.
pernah di depan kampusnya, di sebuah tempat yang bernama"bata merah"dia menggambar garis muka seorang supir bajaj yang usianya tak muda lagi, penuh dengan nestapa jauh dari senang dunia, lollita, entah kenapa aku sangat mengagumi sosoknya.
masih di senja teras depan rumah lollita menghadap utara, kami banyak bercerita, tentang betapa lollita kecewa akan adam, pacarnya yang seorang anak band, tentang harapannya akan massa depan, tentang perusahaan iklan yang ingin ia rintis, aku senang berlama-lama dengan dia, untuk sekedar mendengar tanpa berkomentar, cerita dia tentang hari-hari nya yang penuh polusi jakarta, teh sudah tidak hangat lagi, dia beranjak mengeser posisi duduknya, mengambil ponselnya yang berada di meja di sebelah kiri tepat sebelah kanan ku, jam 6 kurang 5, serunya padaku, mau sholat magrib dimana kamu rist? "dia bertanya padaku" kujawab singkat, disini boleh?, yaudah ga papah, kita jamaah ajah, kebetulan biar pahalanya berlipat ganda, serunya lagi padaku…
lollita senja secangkir teh hangat pelangi lembanyung sesudah gerimis
dipan senja di utara kota tua yang bernama jakarta